Dari pantauan Radar Jogja (Jawa Pos Group), kericuhan terjadi karena dipicu serangan yang dilakukan suporter Persipura kepada Suporter Persija. Penyerangan dilakukan setelah suporter yang jumlahnya sepuluh orang itu dihalau oleh petugas untuk kembali ke tribun setelah masuk ke pinggir lapangan saat pertandingan masih berlangsung.
Karena tak berhasil mereka akhirnya menuju tribun timur yang dihuni oleh Jakmania, julukan Suporter Persija. Kericuhan ini akhirnya memancing suporter Persipura dalam jumlah yang lebih besar juga ikut melakukan penyerangan terhadap para suporter Persija.
Dari sini, keributan mulai terjadi. Lembaran batu, bangku dan benda tumpul lainnya tak dapat dielakkan. Bukan hanya itu, benda tajam pun ada yang digunakan oleh para suporter untuk mencederai suporter lainnya.
Hal itu juga dibenarkan oleh ketua Jakmania Lariko Ranggamone yang berada di lapangan saat keributan berlangsung. Dia menjelaskan bahwa kericuhan terjadi setelah pihaknya berusaha mempertahankan diri karena diserang suporter lawan.
"Kami tidak menyerang, kami malah diserang dan berusaha untuk mempertahankan diri," ujarnya saat dihubungi oleh Jawa Pos, pasca kericuhan terjadi, tadi malam.
Riko menyebut jika kericuhan terjadi akibat kurang sigapnya aparat keamanan dalam menyikapi ulah-ulah dari yang berusaha memancing keributan. Dia menyesalkan mengapa Suporter lawan bisa masuk ke pinggir lapangan dan kemudian menyerang suporter Persija.
"Petugas keamanan kurang antisipatif. Jika mereka bisa antisipatif, kericuhan ini bisa dicegah," tambahnya.
Riko memeparkan bahwa ada 14 suporter Jakmania yang menjadi korban dan menderita luka. Satu diantaranya bahkan harus masuk ke rumah sakit karena terkena anak panah yang dilepaskan oleh para pendukung Persipura. Sampai berita ini ditulis, Riko menyebut korban luka parah masih dirawat di rumah sakit.
Keributan yang terjadi di tribun Penonton itu ternyata tak membuat panpel menghentikan pertandingan. Mereka tetap meminta wasit Hadi Suroso untuk meneruskan pertandingan sampai peluit panjang dibunyikan.
Tak ayal, kericuhan pun berlanjut. Setelah banyak korban berjatuhan, petugas keamanan baru bisa melerai keributan dan mengavakuasi kedua kubu suporter secara terpisah ke luar stadion.
Walaupun diketahui ada banyak korban yang jatuh, ketua Panpel Sukamto terlihat tak terlalu khawatir. Dia hanya menyebut bahwa kericuhan terjadi karena adanya Suporter Persipura yang mabuk dan memancing kisruh.
"Ada supporter dari persipura yang mabuk, panpel sudah berusaha tapi kericuhan tidak dapat dielakan. Namun tidak ada korban jiwa dari kedua supporter," ujar Sukamto yang diwawancara setelah kericuhan.
Pihak PT Liga Indonesia (PT LI ) sebagai penyelenggara kompetisi mengaku langsung melakukan pembahasan tentang kejadian tersebut. Mereka langsung melakukan komunikasi dengan Pengawas Pertandingan (PP) dan perangkat yang ada di arena saat kericuhan terjadi.
"Besok kami akan dalami masalah ini. Tak sampai satu minggu, PT Liga akan mengambil sikap terkait kerusahan ini," ujar CEO PT LI Joko Driyono.
Sementara itu, PSSI sebagai penaggung jawab persepakbolaan Nasional sulit dikonfirmasi terkait kejadian ini. Deputi Sekjen PSSI bidang Kompetisi Saleh Mukadar dan Ketua Komite Kompetisi PSSI Sihar Sitorus kompak tidak membalas pesan singkat meupun mengangkat telepon dari Jawa Pos.(aam/hrp)